news

2023-10-20

what happens to compostable bags in landfill

Apa yang Terjadi pada Kantong Kompos yang Berakhir di Tempat Pembuangan Akhir?

Ketika kita berbicara tentang keberlanjutan dan perlindungan lingkungan, salah satu topik yang sering dibahas adalah penggunaan plastik. Plastik konvensional yang sulit terurai telah menjadi masalah global yang serius, dengan dampak negatifnya terlihat di mana-mana. Untuk menghadapi masalah ini, solusi baru, seperti penggunaan kantong kompos, telah diusulkan sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan. Namun, apa yang sebenarnya terjadi pada kantong kompos saat akhirnya berakhir di tempat pembuangan sampah?

Saat ini, banyak kantong kompos yang dijual di pasaran diklaim ramah lingkungan dan dapat terurai secara alami. Kantong ini umumnya terbuat dari bahan organik, seperti pati jagung, pati kentang, atau serat tanaman lainnya. Mereka dipromosikan sebagai solusi yang lebih baik daripada kantong plastik konvensional, karena dapat terurai dalam kondisi pengomposan yang tepat.

Namun, ketika sampah yang dikumpulkan dari rumah tangga dan bisnis dibawa ke landfill, kondisi untuk pengomposan yang ideal tidak terpenuhi. Di landfill, sampah sering dikompaksi dan ditimbun dalam lapisan tanah tebal. Proses ini mengubah lingkungan landfill menjadi tempat yang anaerobik (tanpa oksigen), yang tidak kondusif bagi pembusukan organik yang normal, termasuk kantong kompos.

Kantong kompos yang berakhir di landfill akan mengalami proses yang tidak jauh berbeda dengan kantong plastik konvensional. Tanah tebal dan kondisi tanpa oksigen menghambat degradasi bahan organik dalam kantong, memperlambat atau bahkan mencegah pembusukan alami. Ini berarti kantong kompos tidak akan terurai dengan cepat seperti yang diharapkan, melainkan akan tetap ada dalam tumpukan sampah selama bertahun-tahun.

Perlu dicatat bahwa beberapa kantong kompos mungkin memiliki proses pengomposan yang lebih cepat di landfill karena adanya bakteri dan mikroorganisme yang bisa melakukan degradasi lebih baik di dalam kondisi anaerobik. Namun, frekuensi pengomposan yang lebih tinggi ini masih jauh dari ideal dan tidak dapat menyeimbangkan dampak lingkungan umum akibat penggunaan plastik konvensional.

Selain itu, ketika kantong kompos terurai di landfill, mereka menghasilkan metana, gas rumah kaca yang sangat berbahaya. Metana adalah salah satu penyumbang utama pemanasan global, dengan kemampuan untuk menjebak panas di atmosfer lebih dari 20 kali lebih kuat daripada CO2. Dengan menghasilkan metana, kantong kompos yang berakhir di landfill sebenarnya membuat dampak negatif yang lebih besar terhadap perubahan iklim.

Maka dari itu, jika kita ingin benar-benar mengurangi dampak negatif lingkungan dari penggunaan kantong plastik, termasuk kantong kompos, maka langkah pertama yang paling penting adalah mengurangi pemakaian plastik itu sendiri. Menghindari penggunaan kantong plastik sekali pakai sama sekali merupakan langkah terbaik. Beralih ke kantong kain atau bahan tahan lama lainnya adalah alternatif yang lebih baik jika kita mempertimbangkan keberlanjutan jangka panjang.

Namun, jika Anda masih ingin menggunakan kantong kompos, penting untuk memahami dan mengetahui konsekuensinya. Mengompos sendiri di rumah adalah pilihan terbaik, karena memungkinkan proses pengomposan yang ideal dan memberi Anda kontrol atas daur ulang limbah organik Anda sendiri. Alternatif lainnya adalah mencari fasilitas pengomposan komunitas di area Anda yang menerima kantong kompos.

Dalam kesimpulannya, saat kantong kompos berakhir di landfill, mereka tidak akan terurai dengan cepat seperti yang diharapkan. Mereka akan tetap ada dalam tumpukan sampah selama bertahun-tahun, memperburuk masalah limbah plastik. Oleh karena itu, mengurangi penggunaan plastik secara keseluruhan tetap menjadi langkah utama dalam melindungi lingkungan kita.

message

Take a minute to fill in your message!

Please enter your comments *